Powered By Blogger

Kamis, 16 Mei 2013

cahaya cinta 1


CINTA CAHAYA

Jangan bicara denganku sekarang. Aku menggigit! Ini bukan main-main, aku serius. Lihat mata aku, lihat mata aku!
Baiklah, bukan cara yang benar untuk berkenalan memang. Tapi tolong, aku sedang tidak ingin diganggu. Apalagi jika kamu seorang pria, cepat-cepatlah menghindar.
“Aya…ng…ng…bisa nanya nggak?”
Dengan mata nanar aku menatap, “Gak!”
“Oh, e…bentar, soal artikel. Kata Mbak Maya, aku tanya kamu saja karena sudah senior.”
Aku menghela napas. “Lihat mata saya! Lihat mata saya!’
Anak baru di kantor itu, Cindy, mengecilkan pupil matanya dan bergidik. “Hiiii, serem ah!”
Lalu ia meninggalkan aku dengan geleng-geleng kepala.
Di hadapanku, ada beberapa artikel yang harus aku edit untuk majalah. Begini judul beberapa artikel itu: Oh, Saya Sedang Jatuh Cinta!, Strategi Untuk Membuatnya Berkata, “Yuk, Nikah!”, Apa Yang Anda Lakukan Salah?
Ingin rasanya aku berlari menghadap Mbak Maya dan meminta untuk sementara artikel-artikel relationship ini jangan jatuh ke tanganku untuk kuedit. Tapi Mbak Maya pasti tidak akan menerimanya, karena ia sungguh tahu aku “dulu” yang mendeklarasikan diriku pencinta tulisan-tulisan Dr. John Gray yang menulis Men Are From Mars, Women Are From Venus.
Oh, memang benar sekali aku suka artikel-artikel itu sebelum kejadian menyebalkan itu. Aku benar-benar merasa tertipu oleh artikel-artikel yang aku tulis, yang aku edit, yang aku baca, semua seperti….sekadar teori.
Bahwa wanita yang “sedikit jual mahal” akan membuat pria “penasaran”. Apalagi rencana kami akan menikah setahun kemudian. Aku pikir, tentu ia akan makin penasaran dan merindukan aku. Aku pun sengaja tidak membalas sms-sms dia, sampai akhirnya dia bosan dan tidak sms.
Hasilnya? Dalam seminggu aku mempraktikkannya, yaitu sibuk dengan pekerjaanku sebagai senior editor di majalah bulanan terbesar di Indonesia, namun hasilnya ia justru muncul “mengejutkan”.
Bukan, dia bukan sms atau menelepon dan berkata, “Aku rindu kamu, Cahaya.” Atau sebaliknya, bahkan jika hal buruk yang mungkin terjadi, bisa saja dia berkata, “Aku tidak merindukanmu, Cahaya.” Atau kalau mau yang terburuk di pikiranku jika ia berkata, “Aku membatalkan pernikahan kita, Cahaya.”
Tidak! Pria itu memilih jalannya sendiri. Ia menggunakan akses teknologi facebook dan twiiter dengan memasang foto profilnya sedang berdua, memeluk seorang perempuan putih berambut panjang yang tidak kukenal. Aku nyaris pingsan. Aku sedang berada di kantor ketika saat istirahat makan siang iseng-iseng mengecek akun-akun dia di jejaring sosial itu. Bukan cuma rasa lapar yang hilang, tapi aku benar-benar seperti tidak bisa bernapas dan gelap. Badanku kaku.
Aku berusaha menarik napas pelan satu-satu dan sms dia: Sayang, foto di Facebook dan Twitter itu…benar?
Jawabnya: IYA.
APA?

Baiklah. Kusebut namanya nyaring-nyaring sekarang: Cahyo. Kami berpacaran semenjak sama-sama kuliah di jurusan komunikasi dari lima tahun yang lalu. Kami saling menyukai dari pandangan pertama. Ia bilang suka dengan bentuk mata sipitku dan kulit putihku serta rambut pendekku yang simpel. Aku suka dengan rahang tegasnya, mata tajamnya, dan rambut ikalnya. Kami sama-sama “gila” suka becanda, suka jalan-jalan, dan suka iseng atau jail ke teman. Semua berjalan lancar, kami bahkan nyaris tidak pernah bersitegang. Paling sekali, saat setelah wisuda ia ke klub hingga mabuk lalu terpaksa meneleponku. Itu saja. Semua manis dan terasa indah. Waktu berjalan mulus hingga bulan depan harusnya kami menikah. Bahkan seminggu lagi adalah jadwal kami bertemu agen properti untuk melihat rumah masa depan kami. Disambung dengan pertemuan seorang fotografer untuk foto pranikah yang tidak biasa. Nah, dengan apa yang terjadi sekarang mau tahu apa yang kurasa? Aku jadi “gila” benar. G.I.L.A.
Kupandang lekat-lekat undangan pernikahan di mejaku Cahaya-Cahyo, dengan inisial CC. Kami selalu berkata inisial nama kami adalah Cinta Cinta, berarti cinta yang dobel. Yeah right.

“Aya, kamu nggak ngantor?”
Katakan padaku ini hari Minggu. Atau ini adalah hari libur khusus untuk orang patah hati. Bukankah negara maju seperti Jepang konon karyawan memilik hak untuk meliburkan diri jika sedang putus cinta alias patah hati.
Lihatlah hari ini. Hujan. Petir bahkan menyambar-nyambar seperti mencabik-cabik harapan. Melunturkan. Luruh ke jalanan.
“Malas.”
“Malas? Sejak kapan Cahaya Terang mengucapkan kata itu?” nada perempuan di seberang telepon kian meninggi.
Ela dari divisi iklan adalah sahabatku di kantor. Mungkin kalau tidak dibantu dia dengan kata-kata semangat aku sudah mati. Ya, mati. Terdengar dramatis ya? Sama dramatisnya ketika aku mendengar nama lengkapku sendiri diucapkan oleh orang lain: Cahaya Terang. Apa yang dipikirkan oleh orangtuaku? Kedengarannya seperti “Habis gelap, terbitlah terang,” atau iklan, “Terus terang, bla bla terang terus.”
Di telingaku seperti terdengar Vonda Shepard menyanyikan The End of the World: “Why does the sun go on shining? Why does the sea rush to shore? Don’t they know it’s the end of the world….’cos you don’t love me anymore…”
“Cahaya?”
“Hujan,” jawabku pendek.
“Apa urusan hujan dengan bekerja? Maksudnya kamu jadi malas, begitu?”
“Iya.”
“Ah, ya sudahlah. Ini pasti gara-gara patah hati kamu itu. Silakan patah hati. Silakan menyesali diri, mengasihani diri. Lalu silakan berjamur di kamarmu karena tak mau pergi dan akhirnya kamu sendiri!”
Klik! Telepon ditutup Ela. Lah kok dia yang sewot? Selain itu, kenapa juga dia jadi ikutan puitis? Kenapa Ela seperti bisa membaca pikiranku yang sedang galau tapi sekaligus berubah menjadi sisi penulis yang melankolis. Mungkin aku segera membuat novel saja. Ya, sebuah novel tentang pengkhianatan cinta.


Atau puisi saja. Pagi yang kelam. Hati yang temaram. Kesepian. Cinta yang kusam. Hujan yang menerkam. Harapan. Impian. Yang luruh di jalanan?
Kamu yang tidak punya perasaan! Menjual rasa untuk sebuah kesemuan. Terbuta oleh kecantikan. Perempuan. Yang menawarkan. Apa selain kesesatan! Pergi sana pria keterlaluan! Jangan. Pernah menampakan. Batang hidungmu walau hanya sekelebatan!
DUAAAAR! Petir menyambar-nyambar. Seakan menyadarkan kata-kataku yang seperti orang kesurupan. Aku terlonjak. Aku menarik napas panjang. Ahhhhh, Tuhan! Sudahlah! Ingin aku tertidur saja. Kalau perlu mati saja.
Tok! Tok! Tok! Duh, siapa lagi?
“Ya?”
“Cahaya, ini Mama.”
“Sakit!” teriakku.
“Sakit apa? Jadi gak ngantor? Mau ke dokter?”
Sakit jiwa, Mama. Aku sudah besar Mama. Bahkan aku sudah pernah jatuh cinta, tunangan, akan menikah seminggu lagi tapi kemudian bubar. Aku sudah mengalami manis dan getirnya kehidupan.
“Cahaya, jangan gitu dong Nak. Mama khawatir. Semangat ya…kan namamu…”
Sayup-sayup di antara tutupan bantal di kepalaku aku mendengar namaku, “Cahaya,” disebut Mama. Aku tahu namaku Cahaya. Tapi bagaimana jika aku meredup? Bukankah cahaya bisa meredup? Harusnya Mama jangan memberiku nama ini, karena setiap seakan hidupku terang terus, bercahaya terus, padahal tidak demikian. Aku merasa mati. Mati lampu. Gelap.
Twitter diciptakan untuk pelampiasan orang patah hati seperti aku. Dengan bebas aku melepaskan rasa itu.
New tweet. What’s happening?
CahayaTerang Kamu! Pergi dari situ! Dari ruang tunggu! Di otakku!
YudiKara Kamu! Kenapa gitu? RT @CahayaTerang Kamu! Pergi dari situ! Dari ruang tunggu! Di otakku!
CahayaTerang Pengkhianat cinta! Jangan pernah ada! Menyapa. Di muka dunia!
Albert_Cool Hei hei santai aja, cari baru RT @CahayaTerang Pengkhianat cinta! Jangan pernah ada! Menyapa. Di muka dunia!
ElaBukan? Kenapa kamu? Masih? Halooo! RT @CahayaTerang Pengkhianat cinta! Jangan pernah ada! Menyapa. Di muka dunia!
…..
“Baik, untuk artikel relationship kita edisi ini saya berpikir untuk membuat semacam reality show seperti yang di televisi sedang marak-maraknya, tapi ini di majalah.”
“Setuju Mbak Maya!”
“Seru!”
“Ya!”
“Aya!”
Buru-buru aku mendongak, mengalihkan pandangan dari UberTwitter di BlackBerry ke arah Si Bos.

Sepertinya satu ruangan setuju dengan ide Mbak Maya. Mbak Maya menatapku dengan mata berbinar-binar. “Pasti kamu akan senang sekali dengan tema artikel kali ini Aya.”
Oke, aku senang mendengar kata “Aya” setelah akhir-akhir ini banyak orang memanggilku dengan nama lengkapku “Cahaya”, seperti yang sering dilakukan Cahyo. Duh, lupakan aku barusan bicara apa. Aku bahkan tidak kenal dia siapa *amnesia mode on *.
Aku mengangguk lesu. “Ya, Mbak.”
Wajah harus tetap tersenyum. Ingat, ini kantor. Ingat promosi jabatan sebentar lagi, sebaiknya jika aku ingin menjadi Managing Editor aku harus selalu profesional. Ini susahnya menjadi perfeksionis. Di satu sisi hidup ingin menjadi sempurna. Kerja sempurna, cinta sempurna. Tapi sayang, dunia tak sempurna.
“Ide saya adalah bagaimana jika Aya mencoba blind dates. Aktif di jejaring sosial, misal Facebook atau Twitter dan berkenalan dengan beberapa pria secara acak. Ikut juga biro jodoh. Buat ceritanya, mulai dari cerita memilih pasangan blind dates, sampai saat kencan. Juga buat kesimpulan jejaring mana yang efektif mencari pasangan versus biro jodoh. Pasti akan menarik sekali!”
Mbak Maya bertutur tanpa titik koma, sehingga aku tak berdaya selain tersenyum dan mengangguk. “Ya, Mbak.”
“Seru kan?”
“Seru sekali, Mbak,” jawabku dengan muka “palsu” dan intonasi “sandiwara.”

Ela sungguh sahabat yang baik. Ia membuat “pr” aku dari Mbak Maya menjadi jauh lebih ringan. Ia kadang memegang BlackBerry-ku dan menjawab semua balasan dari status aku di Twitter.
“Aku suka si Yudi ini, sepertinya ia menyenangkan. Dari awal saja ia menjawab RT status kamu dengan kata-kata netral tapi berirama. Sepertinya ia cukup romantis. Dia adalah pilihan pertama dari twitter.”
Aku meraih kembali BlackBerry-ku dari tangan Ela.
YudiKara Asa! Ada. Jika saja. Kamu coba RT @CahayaTerang Hilang sudah asa. Setelah mencabik-cabik rasa. Berkalang duka. Cinta. Pergi saja. Sana.
“Benar kan? Dia romantis kan? Cocok kan sama kamu?” goda Ela.
Aku mengangkat bahu.
“Dia orang pertama yang harus kamu kencani paska Cah…”
“Jangan sebut namanya!” ancamku.
“Ya udah. Dia orang pertama yang akan membuat kamu semangat!”
“Ya ya…”
“Aksi pertama, kamu follow dia juga. Aksi kedua, kami DM dia bilang: Boleh kenalan?”
“Whaaaat? Boleh kenalan? No way!’
“Punya assignment kerja demi karier kamu di depan, masih saja gengsi. Memang maunya kamu bagaimana?”
“Ya, yang lebih halus, jangan desperado gitu dong,” protesku.
“Baiklah. Bagaimana kalau: Kamu siapa?”
Hmmm…Kamu siapa? Hmmm…
“Bolehlah!”

PRIA PERTAMA: Kamu Siapa?
Ini dia kencan pertamaku, seorang petualang sejati. Di twitter tertulis.
Name Yudi Kara
Location Earth and beyond
 Bio A romantic traveler

Berkat kata-kata: “Kamu siapa?” Berbalas dengan, “Aku Yudi Kara, penjaga hatimu.”
Untuk ini dia juara. Jika aku dalam keadaan normal dan benar-benar butuh cinta, aku akan menganggapnya dewa. Sungguh, seorang manusia yang sepertinya sempurna dalam berkata. Setelah berbalas kata-kata berirama, kami berbalas nomer telepon dan akhirnya janji kencan berdua di sebuah kafe dengan konsep terbuka, yaitu kursi-kursi dan meja-meja di taman dengan pancuran air dan gesekan biola (live!).
Aku berusaha melepas rasa, ini kerja, ini kerja, ini kerja, demikian batinku. Aku pun berdandan cantik, mata warna cokelat, pipi merona, bahkan dengan lipstik warna kesayanganku, dusty rose. Warna ini juga warna kesayangan Cah….Oke, mana penghapus? Amnesia. Delete. Hilang nama itu. Masuk trash! …Fokus!
Dandan gaya natural-check. Baju rok mini terusan berbunga yang simpel dan feminin- check. Parfum wangi lembut dengan sedikit wangi musk- check. Pesan sandwich saja, makanan yang tidak repot dan bisa buat baju bernoda (jangan spaghetti, jangan soto, apalagi jangan kepiting)- check, Semua teori apa yang harus dilakukan wanita di kencan pertama sudah kulakukan.
“Yudi Kara. Aku suka nama itu…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar