CINTA CAHAYA
Jangan bicara denganku
sekarang. Aku menggigit! Ini bukan main-main, aku serius. Lihat mata aku, lihat
mata aku!
Baiklah, bukan cara
yang benar untuk berkenalan memang. Tapi tolong, aku sedang tidak ingin
diganggu. Apalagi jika kamu seorang pria, cepat-cepatlah menghindar.
“Aya…ng…ng…bisa nanya
nggak?”
Dengan mata nanar aku
menatap, “Gak!”
“Oh, e…bentar, soal
artikel. Kata Mbak Maya, aku tanya kamu saja karena sudah senior.”
Aku menghela napas.
“Lihat mata saya! Lihat mata saya!’
Anak baru di kantor
itu, Cindy, mengecilkan pupil matanya dan bergidik. “Hiiii, serem ah!”
Lalu ia meninggalkan
aku dengan geleng-geleng kepala.
Di hadapanku, ada
beberapa artikel yang harus aku edit untuk majalah. Begini judul beberapa
artikel itu: Oh, Saya Sedang Jatuh Cinta!, Strategi Untuk Membuatnya Berkata,
“Yuk, Nikah!”, Apa Yang Anda Lakukan Salah?
Ingin rasanya aku
berlari menghadap Mbak Maya dan meminta untuk sementara artikel-artikel
relationship ini jangan jatuh ke tanganku untuk kuedit. Tapi Mbak Maya pasti
tidak akan menerimanya, karena ia sungguh tahu aku “dulu” yang mendeklarasikan
diriku pencinta tulisan-tulisan Dr. John Gray yang menulis Men Are From Mars,
Women Are From Venus.
Oh, memang benar
sekali aku suka artikel-artikel itu sebelum kejadian menyebalkan itu. Aku
benar-benar merasa tertipu oleh artikel-artikel yang aku tulis, yang aku edit,
yang aku baca, semua seperti….sekadar teori.
Bahwa wanita yang
“sedikit jual mahal” akan membuat pria “penasaran”. Apalagi rencana kami akan
menikah setahun kemudian. Aku pikir, tentu ia akan makin penasaran dan
merindukan aku. Aku pun sengaja tidak membalas sms-sms dia, sampai akhirnya dia
bosan dan tidak sms.
Hasilnya? Dalam
seminggu aku mempraktikkannya, yaitu sibuk dengan pekerjaanku sebagai senior
editor di majalah bulanan terbesar di Indonesia, namun hasilnya ia justru
muncul “mengejutkan”.
Bukan, dia bukan sms
atau menelepon dan berkata, “Aku rindu kamu, Cahaya.” Atau sebaliknya, bahkan
jika hal buruk yang mungkin terjadi, bisa saja dia berkata, “Aku tidak merindukanmu,
Cahaya.” Atau kalau mau yang terburuk di pikiranku jika ia berkata, “Aku
membatalkan pernikahan kita, Cahaya.”
Tidak! Pria itu
memilih jalannya sendiri. Ia menggunakan akses teknologi facebook dan twiiter
dengan memasang foto profilnya sedang berdua, memeluk seorang perempuan putih
berambut panjang yang tidak kukenal. Aku nyaris pingsan. Aku sedang berada di
kantor ketika saat istirahat makan siang iseng-iseng mengecek akun-akun dia di
jejaring sosial itu. Bukan cuma rasa lapar yang hilang, tapi aku benar-benar
seperti tidak bisa bernapas dan gelap. Badanku kaku.
Aku berusaha menarik
napas pelan satu-satu dan sms dia: Sayang, foto di Facebook dan Twitter
itu…benar?
Jawabnya: IYA.
APA?
Baiklah. Kusebut
namanya nyaring-nyaring sekarang: Cahyo. Kami berpacaran semenjak sama-sama
kuliah di jurusan komunikasi dari lima tahun yang lalu. Kami saling menyukai
dari pandangan pertama. Ia bilang suka dengan bentuk mata sipitku dan kulit
putihku serta rambut pendekku yang simpel. Aku suka dengan rahang tegasnya,
mata tajamnya, dan rambut ikalnya. Kami sama-sama “gila” suka becanda, suka
jalan-jalan, dan suka iseng atau jail ke teman. Semua berjalan lancar, kami
bahkan nyaris tidak pernah bersitegang. Paling sekali, saat setelah wisuda ia
ke klub hingga mabuk lalu terpaksa meneleponku. Itu saja. Semua manis dan
terasa indah. Waktu berjalan mulus hingga bulan depan harusnya kami menikah.
Bahkan seminggu lagi adalah jadwal kami bertemu agen properti untuk melihat
rumah masa depan kami. Disambung dengan pertemuan seorang fotografer untuk foto
pranikah yang tidak biasa. Nah, dengan apa yang terjadi sekarang mau tahu apa
yang kurasa? Aku jadi “gila” benar. G.I.L.A.
Kupandang lekat-lekat
undangan pernikahan di mejaku Cahaya-Cahyo, dengan inisial CC. Kami selalu
berkata inisial nama kami adalah Cinta Cinta, berarti cinta yang dobel. Yeah
right.
“Aya, kamu nggak
ngantor?”
Katakan padaku ini
hari Minggu. Atau ini adalah hari libur khusus untuk orang patah hati. Bukankah
negara maju seperti Jepang konon karyawan memilik hak untuk meliburkan diri
jika sedang putus cinta alias patah hati.
Lihatlah hari ini.
Hujan. Petir bahkan menyambar-nyambar seperti mencabik-cabik harapan.
Melunturkan. Luruh ke jalanan.
“Malas.”
“Malas? Sejak kapan
Cahaya Terang mengucapkan kata itu?” nada perempuan di seberang telepon kian
meninggi.
Ela dari divisi iklan
adalah sahabatku di kantor. Mungkin kalau tidak dibantu dia dengan kata-kata
semangat aku sudah mati. Ya, mati. Terdengar dramatis ya? Sama dramatisnya
ketika aku mendengar nama lengkapku sendiri diucapkan oleh orang lain: Cahaya
Terang. Apa yang dipikirkan oleh orangtuaku? Kedengarannya seperti “Habis
gelap, terbitlah terang,” atau iklan, “Terus terang, bla bla terang terus.”
Di telingaku seperti
terdengar Vonda Shepard menyanyikan The End of the World: “Why does the sun go
on shining? Why does the sea rush to shore? Don’t they know it’s the end of the
world….’cos you don’t love me anymore…”
“Cahaya?”
“Hujan,” jawabku
pendek.
“Apa urusan hujan
dengan bekerja? Maksudnya kamu jadi malas, begitu?”
“Iya.”
“Ah, ya sudahlah. Ini
pasti gara-gara patah hati kamu itu. Silakan patah hati. Silakan menyesali
diri, mengasihani diri. Lalu silakan berjamur di kamarmu karena tak mau pergi
dan akhirnya kamu sendiri!”
Klik! Telepon ditutup
Ela. Lah kok dia yang sewot? Selain itu, kenapa juga dia jadi ikutan puitis?
Kenapa Ela seperti bisa membaca pikiranku yang sedang galau tapi sekaligus
berubah menjadi sisi penulis yang melankolis. Mungkin aku segera membuat novel
saja. Ya, sebuah novel tentang pengkhianatan cinta.
Atau puisi saja. Pagi
yang kelam. Hati yang temaram. Kesepian. Cinta yang kusam. Hujan yang menerkam.
Harapan. Impian. Yang luruh di jalanan?
Kamu yang tidak punya
perasaan! Menjual rasa untuk sebuah kesemuan. Terbuta oleh kecantikan.
Perempuan. Yang menawarkan. Apa selain kesesatan! Pergi sana pria keterlaluan!
Jangan. Pernah menampakan. Batang hidungmu walau hanya sekelebatan!
DUAAAAR! Petir
menyambar-nyambar. Seakan menyadarkan kata-kataku yang seperti orang kesurupan.
Aku terlonjak. Aku menarik napas panjang. Ahhhhh, Tuhan! Sudahlah! Ingin aku
tertidur saja. Kalau perlu mati saja.
Tok! Tok! Tok! Duh,
siapa lagi?
“Ya?”
“Cahaya, ini Mama.”
“Sakit!” teriakku.
“Sakit apa? Jadi gak
ngantor? Mau ke dokter?”
Sakit jiwa, Mama. Aku
sudah besar Mama. Bahkan aku sudah pernah jatuh cinta, tunangan, akan menikah
seminggu lagi tapi kemudian bubar. Aku sudah mengalami manis dan getirnya
kehidupan.
“Cahaya, jangan gitu
dong Nak. Mama khawatir. Semangat ya…kan namamu…”
Sayup-sayup di antara
tutupan bantal di kepalaku aku mendengar namaku, “Cahaya,” disebut Mama. Aku
tahu namaku Cahaya. Tapi bagaimana jika aku meredup? Bukankah cahaya bisa
meredup? Harusnya Mama jangan memberiku nama ini, karena setiap seakan hidupku
terang terus, bercahaya terus, padahal tidak demikian. Aku merasa mati. Mati
lampu. Gelap.
Twitter diciptakan
untuk pelampiasan orang patah hati seperti aku. Dengan bebas aku melepaskan
rasa itu.
New tweet. What’s
happening?
CahayaTerang Kamu!
Pergi dari situ! Dari ruang tunggu! Di otakku!
YudiKara Kamu! Kenapa
gitu? RT @CahayaTerang Kamu! Pergi dari situ! Dari ruang tunggu! Di otakku!
CahayaTerang
Pengkhianat cinta! Jangan pernah ada! Menyapa. Di muka dunia!
Albert_Cool Hei hei
santai aja, cari baru RT @CahayaTerang Pengkhianat cinta! Jangan pernah ada!
Menyapa. Di muka dunia!
ElaBukan? Kenapa kamu?
Masih? Halooo! RT @CahayaTerang Pengkhianat cinta! Jangan pernah ada! Menyapa.
Di muka dunia!
…..
“Baik, untuk artikel
relationship kita edisi ini saya berpikir untuk membuat semacam reality show
seperti yang di televisi sedang marak-maraknya, tapi ini di majalah.”
“Setuju Mbak Maya!”
“Seru!”
“Ya!”
“Aya!”
Buru-buru aku
mendongak, mengalihkan pandangan dari UberTwitter di BlackBerry ke arah Si Bos.
Sepertinya satu
ruangan setuju dengan ide Mbak Maya. Mbak Maya menatapku dengan mata
berbinar-binar. “Pasti kamu akan senang sekali dengan tema artikel kali ini
Aya.”
Oke, aku senang
mendengar kata “Aya” setelah akhir-akhir ini banyak orang memanggilku dengan
nama lengkapku “Cahaya”, seperti yang sering dilakukan Cahyo. Duh, lupakan aku
barusan bicara apa. Aku bahkan tidak kenal dia siapa *amnesia mode on *.
Aku mengangguk lesu.
“Ya, Mbak.”
Wajah harus tetap
tersenyum. Ingat, ini kantor. Ingat promosi jabatan sebentar lagi, sebaiknya
jika aku ingin menjadi Managing Editor aku harus selalu profesional. Ini
susahnya menjadi perfeksionis. Di satu sisi hidup ingin menjadi sempurna. Kerja
sempurna, cinta sempurna. Tapi sayang, dunia tak sempurna.
“Ide saya adalah
bagaimana jika Aya mencoba blind dates. Aktif di jejaring sosial, misal
Facebook atau Twitter dan berkenalan dengan beberapa pria secara acak. Ikut
juga biro jodoh. Buat ceritanya, mulai dari cerita memilih pasangan blind
dates, sampai saat kencan. Juga buat kesimpulan jejaring mana yang efektif
mencari pasangan versus biro jodoh. Pasti akan menarik sekali!”
Mbak Maya bertutur
tanpa titik koma, sehingga aku tak berdaya selain tersenyum dan mengangguk.
“Ya, Mbak.”
“Seru kan?”
“Seru sekali, Mbak,”
jawabku dengan muka “palsu” dan intonasi “sandiwara.”
Ela sungguh sahabat
yang baik. Ia membuat “pr” aku dari Mbak Maya menjadi jauh lebih ringan. Ia
kadang memegang BlackBerry-ku dan menjawab semua balasan dari status aku di
Twitter.
“Aku suka si Yudi ini,
sepertinya ia menyenangkan. Dari awal saja ia menjawab RT status kamu dengan
kata-kata netral tapi berirama. Sepertinya ia cukup romantis. Dia adalah
pilihan pertama dari twitter.”
Aku meraih kembali
BlackBerry-ku dari tangan Ela.
YudiKara Asa! Ada.
Jika saja. Kamu coba RT @CahayaTerang Hilang sudah asa. Setelah mencabik-cabik
rasa. Berkalang duka. Cinta. Pergi saja. Sana.
“Benar kan? Dia
romantis kan? Cocok kan sama kamu?” goda Ela.
Aku mengangkat bahu.
“Dia orang pertama
yang harus kamu kencani paska Cah…”
“Jangan sebut
namanya!” ancamku.
“Ya udah. Dia orang
pertama yang akan membuat kamu semangat!”
“Ya ya…”
“Aksi pertama, kamu
follow dia juga. Aksi kedua, kami DM dia bilang: Boleh kenalan?”
“Whaaaat? Boleh
kenalan? No way!’
“Punya assignment
kerja demi karier kamu di depan, masih saja gengsi. Memang maunya kamu bagaimana?”
“Ya, yang lebih halus,
jangan desperado gitu dong,” protesku.
“Baiklah. Bagaimana
kalau: Kamu siapa?”
Hmmm…Kamu siapa? Hmmm…
“Bolehlah!”
PRIA PERTAMA: Kamu
Siapa?
Ini dia kencan
pertamaku, seorang petualang sejati. Di twitter tertulis.
Name Yudi Kara
Location Earth and
beyond
Bio A romantic
traveler
Berkat kata-kata:
“Kamu siapa?” Berbalas dengan, “Aku Yudi Kara, penjaga hatimu.”
Untuk ini dia juara.
Jika aku dalam keadaan normal dan benar-benar butuh cinta, aku akan
menganggapnya dewa. Sungguh, seorang manusia yang sepertinya sempurna dalam
berkata. Setelah berbalas kata-kata berirama, kami berbalas nomer telepon dan
akhirnya janji kencan berdua di sebuah kafe dengan konsep terbuka, yaitu
kursi-kursi dan meja-meja di taman dengan pancuran air dan gesekan biola
(live!).
Aku berusaha melepas
rasa, ini kerja, ini kerja, ini kerja, demikian batinku. Aku pun berdandan
cantik, mata warna cokelat, pipi merona, bahkan dengan lipstik warna
kesayanganku, dusty rose. Warna ini juga warna kesayangan Cah….Oke, mana
penghapus? Amnesia. Delete. Hilang nama itu. Masuk trash! …Fokus!
Dandan gaya
natural-check. Baju rok mini terusan berbunga yang simpel dan feminin- check.
Parfum wangi lembut dengan sedikit wangi musk- check. Pesan sandwich saja,
makanan yang tidak repot dan bisa buat baju bernoda (jangan spaghetti, jangan
soto, apalagi jangan kepiting)- check, Semua teori apa yang harus dilakukan
wanita di kencan pertama sudah kulakukan.
“Yudi Kara. Aku suka
nama itu…”